Lenggokmu, Lenggok Waktuku
Ratih Sanggarwati - 2004
Tih, diamlah sesaat,
pernahkah hatimu bershalat,
biar ujung kainmu jatuh tak jadi sesat,
biar hidupmu berkeluh melulu kasat,
aku menari di lenggok selendangmu,
mengira hari menjadi hati,
tih, katakanlah sepatah,
waktu memihakmu tapi dunia kalah,
semua jadi hakmu seolah tak seolah,
sejak ngawi ke paris, tokyo, new york hingga sejarah,
kau berputar, catwalk jiwa yang lelah,
aku membaca, raut diwajah,
hidup menari hidup mencari,
tak ada pasrah, tiada lemah,
tih, sujudkan sejuta ampun,
buatku, buat senyap berbilang tahun,
buat nafas sengsara yang berduyun,
membayangimu tanpa sapa tiasa santun,
kau senyum langkap tetap diayun,
aku rindu masa lalu,
bukan lantaran bola keras di matamu,
tapi waktu, berlenggok menarikan hatimu,
tih, pejamkan sebentar pikiranmu,
dan tataplah tanpa menggebu,
aku beringsut kecil,
wajah malu tubuh menggigil,
(kita di seberang waktu)
Baca Juga: Puisi Setan Malaikat Aku Menujumu
Berpacu Dalam Literasi - Radialogica




