Nyanyian Seorang Petani Muda
Nyanyian Seorang Petani Muda
Aku sekarang duduk di pematang,
memandang jauh hari depan mengambang di awan,
Aku sekarang termenung di rumputan,
menatap hijau padang, burung dan ilalang,
Hari sudah tinggi dalam tikaman terik matahari,
hari sudah larut dalam kerja sehari-hari,
Anak-anak gembala menyanyikan lagu derita desanya,
lembu dan kerbau bekerja dan makan seenaknya,
Aku sekarang di sini menanti kiriman makan siang,
dari pacarku yang sederhana, pelan berlenggang di pematang,
Aku sekarang terlena di sini menanti hujan tercurah,
dari langit Tuhan yang katanya maha pemurah,
Hari pun kian larut buat bersenda dan berpacaran,
hari sudah terlambat buat mengeluhkan nasib tanaman,
Terlalu letih aku memikirkan kemakmuran,
sedang tanaman di sawah ladang belum kunjung bermatangan,
Aku sekarang di sini berpikir tentang perkawinan,
Dan bila kawin nanti bulan depan,
aku kawatirkan nasib ternakku sayang,
sebab pastilah ia bakal dijual buat ongkos peralatan,
Hari makin senja, senja makin malam,
burung-burung pulang ke sarang,
gembala menggiring ternak ke kandang,
Beriringan mereka pulang,
beriringan keluh warga desa, harga kerja tak seimbang,
Aku sekarang di sini berbicara dengan alam,
yang sabar dan ramah dibelai angin lembah yang rawan,
Tak kutahu adakah ia tahu,
tetesan keringat dan nasib tersia kerabat desaku,
Budiman S Hartojo
1962
Berpacu Dalam Literasi - Radialogica





No comments: