Jangan marahi aku Ibu
Aku tak lulus ujian. Jangan marahi aku, Ibu. Masih ada delapan teman lain yang bernasib sama. Nilai rata-rataku enam lebih, tapi gagal dalam mata pelajaran Matematika. Nilai 2,9 telah “menjerumuskanku”.
Sungguh, nilai-nilaiku tergolong paling tinggi di antara teman-teman lain yang tidak lulus. Yang lain umumnya jatuh pada rata-rata nilai yang tidak mencapai angka enam.
Jangan marahi aku, Ibu. Aku tahu, Ibu agak malu pada orang tua lain yang anak-anaknya lulus. Apalagi kalau Ibu mendengar mereka membanggakan bahwa kelulusan tahun ini merupakan ujian paling berat bagi anak-anak mereka. Jika anak-anak mereka lulus, tentulah karena memang pintar.
Aku masih berkesempatan mengikuti ujian ulangan. Tapi apakah itu cukup berarti bagiku? Ibu sudah merasa tidak sanggup membiayai pendidikanku. Bahkan sejak aku masuk SLTP, Ibu kurang berminat membahas rencana kelanjutan studiku.
Aku lulus sekolah dasar dengan prestasi terbaik. Ibu bersikap biasa saja dan hanya tersenyum masam tatkala seorang tetangga bertanya padaku, “Ibumu ngasih hadiah apa, Nik?”.
Ibu juga tidak menunjukkan wajah ceria ketika aku ungkapkan bahwa aku diterima di sebuah SLTP favorit dan masuk dua puluh besar dalam peringkat nilai para calon siswa baru. Dan ketika aku diterima di SMU Negeri 1, Ibu malah menunjukkan sikap kurang suka, karena membayangkan beban berat biaya yang harus Ibu tanggung.
“Kenapa tidak coba cari kerja saja. Adikmu juga butuh sekolah.” kata Ibu waktu itu.
Kerja?Ah, kerja apa yang bisa aku jalani? Paling sebagai pekerja pabrik tekstil atau kalau mau nekat merantau ke luar kota entah menjadi apa! Aku tidak memiliki keberanian itu. Aku terlanjur mendaftar ke sekolah lanjutan atas dan diterima. Apa harus disia-siakan?
Dan entah apakah karena kurang dukungan itu, prestasi bagusku dari SD terus merosot di tiap tingkat sekolah lanjutan. Dan prestasi terburukku adalah saat duduk di bangku SMU ini. Memang dalam perjalanan sekolah yang serba penuh kecemasan, bagaimana aku bisa belajar dengan tenang?
Jangan marahi aku, Ibu. Aku tahu bahwa anak yang tidak lulus berarti anak bodoh. Begitu setidaknya yang menjadikan Ibu risi, memiliki anak bodoh yang memungkinkan bahan olokan, meskipun Ibu tidak pernah bangga ketika aku bisa menunjukkan prestasi terbaik.
Sudah aku putuskan saat ini adalah akhir kehidupan sekolahku. Betapapun inginku menikmati kehidupan kampus, aku harus tahu diri, harus memahami kondisi keluarga. Tapi sekali lagi saja Ibu, beri aku dukungan untuk bisa lulus ujian.
Rabu, 17 November 1999
( Niken )





No comments: