MALAM #1

(Kamis, 1 Februari 1990)

— Dista Disarita —


Merenung diri di keheningan malam, sepi . . . sunyi . . .


Hanya desah nafasku, rintik hujan beserta sentuhan angin, dan lirih suara gerakku. Di saat seperti inilah, renungan penuh arti hadir. Aku yang banyak dosa. Ingat akan hidup, ingat akan mati, dan ingat akan segala yang dimiliki-Nya dan kuasa-Nya. Ternyata aku hanya kecil. Oh . . . malam . . .


Aku ingin selalu disampingmu dan memelukmu, agar aku tidak menumpuk dosa.




MALAM #2

(Jum’at, 24 Januari 1992)

— Dista Disarita —


Merapat rasaku di ketepian malam. Semakin larut hatiku semakin hanyut. Dalam sekejap aku terlena, oleh kebisuan malam. Hening . . . sunyi . . . sepi rasaku saat kurindu pada sang kekasih yang jauh.


Baca Juga: Puisi Di Ruang Ini Yang Bernafas Cuma Aku


Oh . . . malamku yang penuh rindu. Hiasi malam angan kasihku. Padamu kekasih nun jauh, ku sayang dirimu. Malam-malam kulewati penuh kerinduan. Sepi menusuk jiwa, rasa kian dingin menanti kehangatanmu. Oh . . . malam-malamku, selimuti daku dengan selimut hangatmu.

No comments: