Apa yang dimaksud dengan paham AWAJA?
Islam yang masuk ke wilayah Nusantara adalah Islam yang menganut paham Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja). Sampai hari ini, paham Aswaja masih bertahan dengan kokoh karena para ulama dan umat Islam terus bahu membahu mempertahankannya.
Apa yang dimaksud dengan paham aswaja?
Aswaja
adalah keyakinan yang mendarah daging dalam kehidupan umat Islam di Indonesia.
Kelahiran, pernikahan, kematian, dan dalam kehidupan sehari-hari sangat
diwarnai ajaran-ajaran Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Ajaran
Aswaja dilestarikan melalui sistem pondok pesantren, madrasah, taman pendidikan
Alquran, majelis taklim, pengajian-pengajian akbar, khutbah-khutbah jumat,
budaya-budaya lokal, media massa, dan lainnya. Namun, yang paling gigih dan
menjadi pusat pendidikan Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah melalui sistem pondok
pesantren. Sistem pendidikan Islam tertua di Indonesia.
Belakangan,
muncul kelompok baru yang mengaku-ngaku sebagai Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Padahal, kenyataannya, mereka menyesat-sesatkan ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah,
mengkafir-kafirkan pengikutnya, dan membenci amalan-amalannya.
Mereka
melalukan apa saja untuk mewujudkan tujuannya menghancurkan Aswaja. Mereka
mendirikan lembaga pendidikan, membuat media massa, radion, dan belakangan
menggunakan media sosial. merekrut
pemuda-pemuda terbaik Ahlus Sunnah, memberi mereka beasiswa, dan membiayai
kebutuhan dakwah mereka.
Masalah
mulai timbul ketika mereka pulang dan mendakwahkan ajaran-ajaran baru yang
mereka dapatkan. Mereka menyalahkan amalan dan menyesatkan ulama panutan.
Padahal, amalan umat Islam yang mereka salahkan dan sesatkan memiliki landasan
yang kuat dari agama. Amalan-amalan tersebut mereka warisi dari para
ulama-ulama terdahulu yang kealiman dan kewiraian diakui umat Islam.
Sudah menjadi sunnatullah bahwa
umat manusia akan selalu mengalami perpecahan dan persatuan. Termasuk umat
Islam. Sejak Rasulullah saw. wafat, ada beberapa persolan yang membuat umat
Islam terpecah. Namun, Allah telah menjamin kelestarian ajaran Rasulullah saw.
hingga yaumil qiyamah.
Rasulullah saw. sendiri sudah menyabdakan bahwa umatnya akan terpecah belah. Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda,
افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً, وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتِيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً, وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً
“Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, kaum Nasrani telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.” (HR. Abu Daud)
Perkataan Rasulullah saw. tersebut telah terbukti kebenarannya. Para ulama meneliti bahwa saat ini, golongan umat Islam bahkan melebihi 73 golongan. Ada yang mengatakan bahwa 73 golongan tersebut adalah golongan yang besar-besar.
Dalam hadis lain dikatakan, bahwa di antara 73 golongan tersebut, hanya ada satu golongan yang selamat. Rasulullah saw. bersabda,
وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً. كُلُّهُمْ فِيْ النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً, قَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: مَنْ أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“Umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan. Semua akan masuk neraka kecuali satu”. Para sahabat bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Orang-orang yang berpegang pada apa yang aku dan sahabatku pegang” (HR at-Tirmidzi)
Golongan yang selamat adalah yang berpegang kepada ajaran Nabi saw. dan para sahabatnya. Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa yang selamat itu adalah orang yang mengikuti al-Jama’ah. Rasulullah saw. mengatakan,
وَإِنَّ هَذِهَ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ, ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِيْ الجَنَّةِ وَهِيَ الجَمَاعَةٌ
“Sungguh, umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan. Tujuh puluh dua (72) golongan dalam neraka. Dan satu (1) golongan dalam surga. Mereka (yang dalam surga) adalah aljama’ah.” (HR. Abu Daud)
Secara bahasa, al-Jama’ah berarti kelompok. Dalam kenyataannya, umat Islam terbagi dalam kelompok-kelompok. Lalu kelompok mana yang dimaksud dalam hadis di atas? Rasulullah saw. menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kelompok terbesar yang terdapat dalam umat ini. Ketika terjadi perbedaan di antara kelompok-kelompok umat Islam, hendaknya umat Islam bergabung dan berpegang kepada kelompok mayoritas umat. Karena, Allah tidak akan menyatukan umat Muhammad dalam kesesatan. Rasulullah saw. bersabda,
إِنَّ الله يَجْمَعْ أُمَّتِيْ عَلَى ضَلاَلَةٍ, فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ
“Allah tidak mengumpulkan umatku dalam kesesatan, jika kalian melihat perbedaan, maka wajib bagi kamu bersama golongan terbanyak.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Mengikuti kelompok kecil yang memiliki paham menyimpang adalah berbahaya karena mudah dipengaruhi setan. Setan takut dan menjauhi umat Islam yang dalam jumlah besar. Karena itu, Rasulullah saw. memerintahkan umat untuk selalu bersatu agar mendapatkan keselamatan. Rasulullah saw. bersabda,
عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ عَنِ الاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ فَمَنْ أَرَادِ بُحْبُوْحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمُ الْجَمَاعَةَ
“Berpeganglah pada kelompok terbesar, dan jauhilah perpecahan, karena setan bersama satu orang yang menyendiri, dari dua orang dia lebih jauh, barangsiapa ingin masuk surga, hendaknya selalu bersama kelompok al-jama’ah.” (HR. at-Tirmidzi)
Sejak berabad-abad lalu, umat Islam mayoritas (sawadul a’zhom) adalah mereka yang mengikuti paham Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja). Yaitu paham yang dirumuskan oleh dua orang mujaddid Islam abad keempat hijriah, Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.
Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah umat mayoritas dalam lingkungan umat Islam. Selalu menjaga persatuan di kalangan umat Islam karena prinsip pemikirannya yang moderat, tawasut, tawazun dan i’tidal. Melalui prinsip wasatiyyah inilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah menyatukan seluruh pengikut mazhabmazhab fikih yang empat; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Ahlus Sunnah Wal Jamaah juga meliputi para penganut ajaran tasawuf yang sesuai syariat seperti yang diajarkan oleh imam Junaid al-Baghdadi, al-Ghozali, dan Syekh Abul Hasan as-Syadzili.
Ahlus Sunnah Wal Jamaah belakangan dibajak oleh kelompok pembuat bid’ah, yang gemar menciptakan keresahan di masyarakat, kelompok yang menolak sunnah-sunnah Nabi saw. atas nama menegakkan sunnah. Mereka mengaku Ahlus Sunnah, tapi sebenarnya bukan bagian dari Ahlus Sunnah.
Mereka mengaku menegakkan sunnah, nyatanya mereka menolak sunnah-sunnah. Mereka mengaku mengamalkan sunnah, tapi nyatanya mereka merusak sunnah. Namun usaha mereka akan gagal, karena Ahlus Sunnah Wal Jamaah tidak kekurangan ulama dan pelajar ilmu syariat yang gigih memperjuangkan ajaran-ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Pada abad 21 ini, para pendukung Khawarij sedikit, Muktazilah sudah habis, Syiah hanya ada di beberapa negara dengan jumlah yang tidak banyak, begitu pula kaum yang mengaku Ahlus Sunnah Wal Jamaah namun suka melecehkan ulama Ahlus Sunnah dan menyesatkan ajaran-ajaran Ahlus Sunnah. Hal ini karena akan ada bagian dari umat ini yang akan selalu berjuang menegakkan kebenaran dan mereka akan selalu menang di setiap zaman. Rasulullah saw. bersabda,
لاَتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ, لاَيَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ, حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
“Akan selalu ada kelompok yang umatku yang menang di atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang menghina mereka, sampai kiamat datang, mereka akan selalu menang.” (HR. Muslim)
Ahlus Sunnah Wal Jamaah selalu memiliki ulama-ulama dan pendukung-pendukung yang tiada kenal lelah melestarikan ajaran Islam yang otentik dari Rasulullah saw. dan para sahabatnya.
Mereka akan selalu menang dan menjadi mayoritas di kalangan umat. Tak terkecuali dengan umat Islam di Indonesia, ketika datang aliran-aliran baru yang merongrong ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah, mempengaruhi masyarakat dengan paham barunya, menyesatsesatkan amalan masyarakatnya, dan mengkafir-musyrikkan umat yang menjalankan ajaran Nabinya, bangkitlah orang-orang yang kembali menjelaskan ajaran Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang sebenarnya.
Menjelaskan siapa kelompok Ahlus Sunnah Wal Jamaah sebenarnya. Bagaimana ciri-ciri mereka. Apakah kelompok yang baru masuk ke Indonesia seperti Syiah dan Salafi-Wahabi termasuk Ahlus Sunnah atau bukan. Kelompok inilah yang disebut-sebut Nabi saw. sebagai Taifah Mansurah. Kelompok yang selalu menang. Mereka, menurut para ulama ahli hadis, adalah para ahlul ilmi.
Di Indonesia mereka adalah para kiai dan tuan guru yang mengabdikan hidupnya untuk kepentingan agama Allah. Mereka mengajar dan mendakwahkan Islam dan ilmu pengetahuan Islam, disertai dengan kesabaran, kearifan dan kebijaksanaan yang luar biasa. Mereka terkadang tergabung dalam organisasi untuk memperkuat perjuangannya membela akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Mereka mendirikan organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU), Nahdlatul Wathan (NW), al-Khairat, Persatuan Tarbiyah Islamiyyah (Perti), al-Wasliyyah, dan lainnya yang merata di seluruh bumi nusantara. Mereka semua adalah pengikut Imam al-Asy’ari dan al-Maturidi, yang mengajarkan sifat 20, dan pengikut mazhab Syafi’I yang dalam sholat subuhnya mereka melakukan qunut. Sebagian di antara mereka adalah ulama tarekat yang memiliki sanad hingga Rasulullah saw. Mereka adalah satu kesatuan dalam akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja).
Aswaja merupakan paham yang bersikap tengah-tengah di kalangan umat. Ahlus Sunnah mencintai Ahlul Bait, selain juga gigih mempertahankan ajaran Islam yang benar sebagaimana disampaikan Rasulullah ٍِSAW, diamalkan para sahabat, dan dirumuskan para imam-imam besar.





No comments: